qas30

--== It is Not Random But Designs ==--
Having trading discipline is the beginning; keeping discipline is the progress;
staying discipline is the success

BBM Kembali Galau

Published on: Jumat, 08 Agustus 2014 in
Kembali BBM Galau, Yang dihajar duluan Solar, dengan alasan pembatasan, sementara penggunanya sangat banyak para petani, nelayan, dan masyarakat kecil lainnya, dan sangarnya lagi para penikmat subsidi BBM adalah mereka yang sudah gemuk.

"Tahun lalu sempat ngeyel "welcome the spirit of hard worker" ...ketidak tegasan orang - orang hebat tersebut, yang memasang "bom waktu", peninggalan jejak kebijakan tersebut semoga bisa di perbaiki oleh pemerintahan baru,..selamat bekerja pak Jokowi-JK...semoga lebih berfihak pada yang kecil, dan gak plin plan serta mancla mencle, tegas pada kebijakan, dan babat alas mafia Migas serta para tikus busuk kotor berdasi, biar gak gini terus yang kecil terutama.

Poltical Will serta janji bapak kami tunggu gan....jangan ada kepentingan lagi ya gan...titik berat masalah adalah rakyat...



Mengenang Krisis Ekonomi 1998, Tragedi tak Terlupakan

Published on: Minggu, 16 Februari 2014 in

Krisis Ekonomi 1998, Tragedi tak Terlupakan

"KEAJAIBAN yang hilang". Itulah istilah yang paling pantas diberikan bagi perekonomian Indonesia sepanjang tahun 1998. Setelah berpuluh-puluh tahun terbuai oleh pertumbuhan yang begitu mengagumkan, tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi begitu hebat. Laporan akhir tahun ekonomi akan mengungkap semua persoalan itu dan mencoba menggambarkan keadaan untuk tahun mendatang. Laporan akan dituangkan dua hari berturut-turut, Senin (21/12) dan Selasa, di Rubrik UTAMA dan Rubrik OPINI. Semua dituliskan oleh wartawan ekonomi Kompas, Andi Suruji, Banu Astono, Dedi Muhtadi, Ferry Irwanto, Ninuk M Pambudy, Pieter P Gero, Simon Saragih, Sri Hartati Samhadi, Subur Tjahjono, Tjahja Gunawan, Yosef Umar Hadi, dan Yovita Arika.

TAHUN 1998 menjadi saksi bagi tragedi perekonomian bangsa. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin dia akan selalu diingat, sebagaimana kita selalu mengingat black Tuesday yang menandai awal resesi ekonomi dunia tanggal 29 Oktober 1929 yang juga disebut sebagai malaise.

Hanya dalam waktu setahun, perubahan dramatis terjadi. Prestasi ekonomi yang dicapai dalam dua dekade, tenggelam begitu saja. Dia juga sekaligus membalikkan semua bayangan indah dan cerah di depan mata menyongsong milenium ketiga.

Selama periode sembilan bulan pertama 1998, tak pelak lagi merupakan periode paling hiruk pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.

Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak Oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan situasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.

Seperti efek bola salju, krisis yang semula hanya berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik.

Akhirnya, dia juga berkembang menjadi krisis total yang melumpuhkan nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa. Katakan, sektor apa di negara ini yang tidak goyah. Bahkan kursi atau tahta mantan Presiden Soeharto pun goyah, dan akhirnya dia tinggalkan. Mungkin Soeharto, selama sisa hidupnya akan mengutuk devaluasi baht, yang menjadi pemicu semua itu.

Efek bola salju

Faktor yang mempercepat efek bola salju ini adalah menguapnya dengan cepat kepercayaan masyarakat, memburuknya kondisi kesehatan Presiden Soeharto memasuki tahun 1998, ketidakpastian suksesi kepemimpinan, sikap plin-plan pemerintah dalam pengambilan kebijakan, besarnya utang luar negeri yang segera jatuh tempo, situasi perdagangan internasional yang kurang menguntungkan, dan bencana alam La Nina yang membawa kekeringan terburuk dalam 50 tahun terakhir.

Dari total utang luar negeri per Maret 1998 yang mencapai 138 milyar dollar AS, sekitar 72,5 milyar dollar AS adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek, di mana sekitar 20 milyar dollar AS akan jatuh tempo dalam tahun 1998. Sementara pada saat itu cadangan devisa tinggal sekitar 14,44 milyar dollar AS.

Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp 4.850/dollar AS pada tahun 1997, meluncur dengan cepat ke level sekitar Rp 17.000/dollar AS pada 22 Januari 1998, atau terdepresiasi lebih dari 80 persen sejak mata uang tersebut diambangkan 14 Agustus 1997.

Rupiah yang melayang, selain akibat meningkatnya permintaan dollar untuk membayar utang, juga sebagai reaksi terhadap angka-angka RAPBN 1998/ 1999 yang diumumkan 6 Januari 1998 dan dinilai tak realistis.

Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor. Anjloknya rupiah secara dramatis, menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan peringkat internasional bank-bank besar bahkan juga surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah.

Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut.

Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan, sehingga melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.

Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk. Sementara si kaya sibuk menyerbu toko-toko sembako dalam suasana kepanikan luar biasa, khawatir harga akan terus melonjak.

Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.088 dollar/kapita tahun 1997, menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998, dan dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tak segera membaik.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan, perekonomian yang masih mencatat pertumbuhan positif 3,4 persen pada kuartal ketiga 1997 dan nol persen kuartal terakhir 1997, terus menciut tajam menjadi kontraksi sebesar 7,9 persen pada kuartal I 1998, 16,5 persen kuartal II 1998, dan 17,9 persen kuartal III 1998. Demikian pula laju inflasi hingga Agustus 1998 sudah 54,54 persen, dengan angka inflasi Februari mencapai 12,67 persen.

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, 292,12 poin, pada 15 September 1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 trilyun pada awal Juli 1998.

Di pasar uang, dinaikkannya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70,8 persen dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) menjadi 60 persen pada Juli 1998 (dari masing-masing 10,87 persen dan 14,75 persen pada awal krisis), menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak. Perbankan mengalami negative spread dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil.

Di sisi lain, sektor ekspor yang diharapkan bisa menjadi penyelamat di tengah krisis, ternyata sama terpuruknya dan tak mampu memanfaatkan momentum depresiasi rupiah, akibat beban utang, ketergantungan besar pada komponen impor, kesulitan trade financing, dan persaingan ketat di pasar global.

Selama periode Januari-Juni 1998, ekspor migas anjlok sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997, sementara ekspor nonmigas hanya tumbuh 5,36 persen.

Anomali

Krisis kepercayaan ini menciptakan kondisi anomali dan membuat instrumen moneter tak mampu bekerja untuk menstabilkan rupiah dan perekonomian. Sementara di sisi lain, sektor fiskal yang diharapkan bisa menjadi penggerak ekonomi, juga dalam tekanan akibat surutnya penerimaan.

Situasi yang terus memburuk dengan cepat membuat pemerintah seperti kehilangan arah dan orientasi dalam menangani krisis. Di tengah posisi goyahnya, Soeharto sempat menyampaikan konsep "IMF Plus", yakni IMF plus CBS (Currency Board System) di depan MPR, sebelum akhirnya ide tersebut ditinggalkan sama sekali tanggal 20 Maret, karena memperoleh keberatan di sana-sini bahkan sempat memunculkan ketegangan dengan IMF, dan IMF sempat menangguhkan bantuannya.

Ditinggalkannya rencana CBS dan janji pemerintah untuk kembali ke program IMF, membuat dukungan IMF dan internasional mengalir lagi. Pada 4 April 1998, Letter of Intent ketiga ditandatangani. Akan tetapi kelimbungan Soeharto, telah sempat menghilangkan berbagai momentum atau kesempatan untuk mencegah krisis yang berkelanjutan.

Bahkan memicu adrenali masyarakat, yang sebelumnya terbilang tenang menjadi beringas. Kemarahan rakyat atas ketidakberdayaan pemerintah mengendalikan krisis di tengah harga-harga yang terus melonjak dan gelombang PHK, segera berubah menjadi aksi protes, kerusuhan dan bentrokan berdarah di Ibu Kota dan berbagai wilayah lain, yang menuntun ke tumbangnya Soeharto pada 21 Mei 1998.

Tragedi berdarah ini memicu pelarian modal dalam skala yang disebut-sebut mencapai 20 milyar dollar AS, gelombang hengkang para pengusaha keturunan, rusaknya jaringan distribusi nasional, terputusnya pembiayaan luar negeri, dan ditangguhkannya banyak rencana investasi asing di Indonesia.

Munculnya pemerintahan baru yang tidak memiliki legitimasi, dan lebih sibuk dengan manuvernya untuk merebut hati rakyat, tidak banyak menolong keadaan. Pemburukan kondisi ekonomi, sosial, dan politik dengan cepat ini setidaknya terus berlangsung hingga kuartal kedua, bahkan kuartal ketiga 1998. Begitulah, kita telah menyaksikan episode terburuk perekonomian sepanjang tahun 1998.*



Era Bank-bank Bangkrut

INDUSTRI perbankan selama tahun 1998 begitu hiruk-pikuk. Antrean panjang nasabah menyambut industri perbankan awal tahun 1998. Mereka benar-benar telah menempatkan kepercayaan pada bank di bawah telapak kaki. Tindakan likuidasi tanpa memperhitungkan kepanikan nasabah, menjadi awal dari semua prahara perbankan itu.

Untung ada jaminan atas simpanan nasabah, yang dikeluarkan pemerintah awal tahun 1998 juga. Kesulitan perbankan di satu sisi bisa tertolong karena tidak lagi harus dicecer nasabah panik. Namun demikian, jaminan itu tak kunjung bisa mengakhiri krisis perbankan yang sudah berkembang menjadi kronis.

Selain warisan dari penyakit masa lalu, ada beberapa karakter yang membantai industri perbankan selama tahun 1998. Pertama adalah warisan dari kepanikan nasabah yang mengakibatkan sumber pendanaan kosong melompong. Bank Indonesia memang menyuntikkan likuiditas berupa BLBI. Akan tetapi pengenaan suku bunga BLBI, telah pula menjadikan pemilik menghadapi beban yang terus bertambah.

Ada lagi faktor lain yang mewarnai, yakni suku bunga kredit yang lebih tinggi ketimbang suku bunga simpanan nasabah. Akibatnya terjadi negative spread. Beban bankir semakin bertambah saja. Bisa dikatakan, bank-bank kita sudah tinggal gedung-gedung saja tanpa isi.

Resesi ekonomi telah mencampakkan semua kredit yang disalurkan menjadi sampah. Idealnya, pemilik bank sendiri harus menyuntikkan modal untuk memberi roh pada perbankan. Akan tetapi itu tidak dapat dilakukan. Pemilik bank juga bangkrut, karena kredit yang disalurkan ke kelompok sendiri, terjerat kredit macet.

Tambahan pula, sebagian kredit itu telah menguap dan sebagian besar menjadi simpanan pemilik bank yang ada di sistem perbankan internasional. Kekhawatiran akan bisnis yang tidak nyaman di Indonesia, telah membuat mereka lari tunggang langgang.

Akibatnya, BI harus menanggung semua beban yang ada di perbankan. Secara de facto, pemilik saham mayoritas perbankan nasional adalah pemerintah melalui Bank Indonesia. Bahkan sebagian besar saham-saham bank swasta telah dicengkeram oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Akan tetapi pengambilalihan Bank Indonesia atas saham-saham perbankan nasional, juga tak menyelesaikan masalah. Idealnya, sebagaimana di berbagai negara, pemerintah menjadi penolong mayoritas kesulitan perbankan.

Namun pemerintah pun kini bagai tunggang langgang, tiba-tiba dihadapkan pada beban dashyat akibat borok-borok industri perbankan. Borok-borok itu, sangat jelas terlihat pada peringkat perbankan yang mayoritas berkategori B (modal sudah menjadi negatif 25 persen terhadap aset) dan C (modal sudah negatif di bawah 25 persen) terhadap aset.

Pemerintah memang merencanakan rekapitalisasi dengan penerbitan obligasi. Diperkirakan akan ada Rp 257 trilyun untuk menyuntikkan modal perbankan. Akan tetapi angka itu dianggap terlalu moderat, jauh dari memadai. Kredit bermasalah bank sendiri pun mencapai kurang lebih Rp 300 trilyun. Meski demikian, angka Rp 257 trilyun itu juga bukan hal mudah untuk dipenuhi.
**

SEBELUM rencana rekapitalisasi, ada sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk menyehatkan perbankan. Ironisnya, kebijakan yang dikeluarkan pun-untuk menyehatkan perbankan-seperti anak-anak bermain tali. Tarik ulur hampir selalu mewarnai kebijakan pemerintah atas perbankan.

Kebijakan di bidang keuangan dan perbankan seringkali direvisi. Ambil contoh, pola pengembalian dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang berubah-ubah. Sebelumnya pemerintah menentukan batas waktu pengembalian BLBI selama lima tahun, kemudian diubah lagi menjadi satu tahun.

Sampai akhirnya setelah melalui bebagai perdebatan, pemerintah menetapkan batas waktu empat tahun bagi pemilik lama saham mayoritas bank beku operasi (BBO) dan bank take over (BTO) untuk menyelesaikan kewajibannya. Bagaimana pun, kebijakan pemerintah yang plintat-plintut bisa membingungkan pelaku pasar dan mengurangi kepercayaan masyarakat pada dunia perbankan.

Maka itu, jangan heran jika masyarakat terus bingung. Sebenarnya kebingungan dan kepanikan dalam masyarakat secara tidak langsung diciptakan sendiri oleh pemerintah melalui kebijakan yang tidak utuh. Setelah kebijakan pengembalian BLBI sudah agak terang dan jelas, sekarang muncul program rekapitalisasi (penambahan modal) perbankan yang merupakan bagian dari kebijakan restrukturisasi perbankan nasional.

Kebijakan yang hendak dilaksanakan itu pun, belum memperjelas arah kebijakan pemerintah yang hendak ditempuh dalam dunia perbankan. Dengan rekapitalisasi perbankan pemerintah berobsesi menciptakan perbankan yang sehat dan kuat serta mampu bertarung di pasar global.
***

DI tengah kebingungan itu, kita bertanya. Bagaimana menyehatkan perbankan. Hingga kini semua itu masih menjadi tanya besar? Maka itu, tahun 1999, industri perbankan belum bisa diharapkan beroperasi seperti sediakala. Mereka belum cukup mampu mengucurkan kredit.

Kalaupun ada yang bisa beroperasi normal, itu hanyalah bank-bank asing atau campuran, atau bank-bank swasta yang selama ini cukup berhati-hati menyalurkan dananya. Akan tetapi jumlah bank yang bisa bertindak seperti hanya dalam bilangan jari tangan.

Lalu bagaimana prospektif perbankan nasional? Hingga saat ini tak ada yang bisa memberikan jawaban tuntas. Berbagai kalangan, domestik maupun dunia internasional di berbagai seminar, juga sangat kebingungan melihat endemik penyakit perbankan. Tahun 1999, akan masih terus dilanjutkan dengan sejumlah pertanyaan bagaimana menyelesaikan perbankan.

Namun yang jelas, likuidasi adalah suatu yang tak terhindarkan. Itu merupakan bagian dari reformasi perbankan, yang bisa dikatakan, juga masih merupakan langkah sumir. Maka itu, mengamati industri perbankan sepanjang tahun 1999 adalah sesuatu yang mereka nantikan.

Sebenarnya ada hal paling urgen yang kelihatannya tak punya korelasi, tetapi untuk menyehatkan industri perbankan, hal itu mutlak diperlukan. Sebagaimana diketahui, dalam dunia yang sudah terintegrasi ini, peran aliran modal sudah menjadi penyangga perekonomian, dan sekaligus juga perbankan satu negara.

Aliran modal itu, termasuk yang dalam kategori investasi portofolio-berbentuk saham obligasi atau produk di pasar uang lainnya. Aliran modal lainnya, adalah yang juga disebut sebagai foreign direct investment (aliran investasi asing langsung).

Untuk kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, hal itu sudah terjadi. Namun keunikan Indonesia, tidak bisa segera membalikkan arus modal keluar menjadi arus modal masuk. Korea Selatan dan Thailand, adalah negara yang paling jitu dan lihai, serta menyadari pentingnya kembali arus modal masuk itu.

Untuk Indonesia, meski dipandang menarik, tetapi kerusuhan berdarah telah membuat investor ngeri untuk masuk ke Indonesia. Jangankan untuk berbinis, untuk berkunjung pun mereka sudah enggan. Karena itu, ketenangan politik, adalah hal mutlak yang harus didengarkan otoritas.


Pemulihan Ekonomi Tergantung Penyelesaian Agenda Politik

PELAKSANAAN agenda politik secara aman, lancar, tertib dan sesuai dengan aspirasi sebagian besar rakyat merupakan keharusan, apabila diinginkan ekonomi akan segera pulih. Sebaliknya, bila kerusuhan sosial terus meningkat dan pemilu tidak dapat dilaksanakan, maka pemulihan ekonomi sulit diharapkan dalam waktu cepat.

Laksamana Sukardi menilai, kondisi perekonomian di tahun 1999 berada dalam situasi yang kritis. Artinya perekonomian nasional berada di persimpangan jalan antara kemungkinan terjadi recovery dan kehancuran. Peluangnya separuh-separuh.

Investor bersikap menunggu, apakah pemilu akan berjalan jujur dan adil, serta demokratis. Kedua hal itu menjadi syarat pembentukan pemerintahan yang bisa dipercaya rakyat. Apabila demikian, maka dengan cepat ekonomi Indonesia akan pulih, karena investor pasti akan datang kembali ke Indonesia.

Oleh karena itu, keinginan seluruh rakyat Indonesia yang menghendaki agar pemilu berlangsung jujur, adil, transparan, serta demokratis harus benar-benar dilaksanakan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Menurut dia, masuknya aliran modal asing sebagai jalan terbaik dalam pemulihan ekonomi hanya bisa terjadi kalau ada pemerintahan yang bersih, didukung rakyat, adanya kepastian hukum dan sistem peradilan yang independen.

Suksesnya pemilu dan Sidang Umum di tahun 1999 tidak serta merta terjadi begitu saja. Mulai saat ini harus dipersiapkan. Namun bayangan kegagalan masih berkecamuk, mengingat intensitas kekerasan dan kejadian perampokan dan penjarahan yang membuat masyarakat merasa tidak aman masih sering terjadi.
***

MELIHAT pentingnya faktor penyelesaian politik, rencana pegelaran dialog nasional sangat penting. Melalui dialog nasional tersebut, diharapkan tokoh-tokoh yang terlibat menyamakan persepsi bahwa pemilu harus berhasil dan sesuai aspirasi rakyat.

Kita sama-sama menghendaki, pemerintahan yang demokratis dan didukung rakyat. Pemerintah sekarang berani mengakui, bahwa dirinya bersifat transisi dan hanya mempersiapkan pemerintahan yang akan datang. Sebaliknya tokoh-tokoh nasional juga harus berani mengakui pemerintahan yang sekarang.

Selain masalah politik, pembenahan sektor ekonomi terutama moneter juga sangat penting, apabila kita mengharapkan pemulihan ekonomi. Dua persoalan mendasar yang harus diselesaikan, yaitu restrukturisasi perbankan dan utang luar negeri.

Pertama, restrukturisasi perbankan harus berhasil. Rencana rekapitalisasi kemungkinan besar tidak akan berhasil. Oleh karena itu, pemerintah harus berani melakukan penutupan bank-bank yang memang tidak solvent, dengan demikian hanya tinggal sedikit bank yang kuat dan profesional.

Sebelum mengatasi perbankan swasta, bank-bank BUMN harus juga selesai. Apabila persoalan bank ini tidak diselesaikan, maka tidak akan ada kegiatan ekonomi, karena tidak ada kodal kerja dan perdagangan.

Kedua, masalah utang luar negeri pemerintah dan swasta. Seberapa jauh masalah utang LN ini bisa diselesaikan. Sebab, mengakhiri krisis perbankan kepercayaan dunia internasional terhadap pemerintah tergantung dari penyelesaian utang tersebut. Bila default, maka kredibilitas turun dan investor enggan masuk ke Indonesia.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Haryadi B Sukamdani mengatakan, sebagai pengusaha pihaknya memang harus optimis. Tetapi kalau melihat di lapangan terutama perkembangan politik yang ada, maka yang ada hanya rasa waswas dan gamang. Sebab pemilu masih jauh, tetapi intensitas kekerasan sudah cukup tinggi, apalagi nanti kalau mendekati kampanye dan pemilu.

Oleh karena itu sikap para pengusaha di tahun 1999 ini sudah pasti akan menunggu. Investasi tidak akan ada. Yang terjadi, para pengusaha hanya meningkatkan volume dan penjualan dari yang sudah ada. Pengusaha tidak mungkin mengandalkan pasar domestik, tetapi luar negeri.

Kalau penyelesaian politiknya baik, masyarakat mendukung pemerintahan yang baru, maka ekonomi akan cepat sekali kembalinya. Yang dikhawatirkan ialah kalau terjadi gejolak sosial akibat kegagalan pemilu yang tidak menampung aspirasi rakyat.

Dengan pertimbangan-pertimbangan seperti itu, dunia usaha melihat kondisi perekonomian nasional di tahun 1999 ibarat seseorang yang sedang mengendarai mobil di tengah "kabut tebal". Kabut tebal (situasi sosial politik) menyebabkan pengendara (baca: pengusaha) tidak bisa memandang jauh ke depan. Atas dasar pertimbangan keselamatan, maka pengendara itu tidak punya pilihan lain kecuali menghentikan perjalanannya dan menunggu sampai kabut itu berlalu.*


Rupiah dan Saham, Meliuk-liuk Bagai Ular

RUPIAH pun tak mau ketinggalan telah menorehkan tinta merah dalam sejarah perekonomian. Bursa saham pun demikian halnya, bergejolak dan jika digambar terlihat seperti ular yang meliuk-liuk. Masih ingat ketika kurs rupiah hampir menembus Rp 17.000 per dollar AS pada 17 Juni 1998?

Begitu Soeharto menyatakan diri mundur sebagai Presiden ke-2 RI tanggal 21 Mei 1998-yang diinginkan pasar dan diperkirakan bisa meredakan gelombang-tak juga menolong rupiah. Rupiah masih sekitar Rp 11.000 per dollar AS. Kecenderungan pelemahan rupiah pasar, terus menjadi-jadi sejak aksi penembakan mahasiswa Trisakti tanggal 12 Mei dan aksi penjarahan 14 Mei di Jakarta.

Hal itu diikuti gelombang kerusuhan dan aksi politik yang sepertinya tidak habis-habisnya setelah mundurnya Soeharto. Pukulan bertubi-tubi atas rupiah mencapai gongnya, setelah mata uang yen Jepang mengalami depresiasi tajam 12 Juni 1998. Kurs rupiah selanjutnya terjun bebas mencapai Rp 17.000, tingkat paling rendah selama sejarahnya.

Kondisi ekonomi yang mengalami kontraksi hingga minus 13 persen, inflasi yang tinggi, suku bunga bank yang melambung memberikan dampak buruk bagi perusahaan-perusahaan termasuk yang sudah terdaftar di bursa. mengakhiri krisis perbankan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) bulan September lalu akhirnya mencapai titik terendah 254 poin.

Menjelang tutup tahun 1998, indeks saham sedikit menapak naik melampaui tingkat 400 poin. Tingkat suku bunga yang mulai menurun akibat inflasi yang mulai terkendali dan aksi spekulasi pada valuta asing yang mulai mereda ikut membantu. Hal serupa juga dialami rupiah yang cenderung membaik sejak September lalu dan kini terus bertengger pada level Rp 7.000 sampai Rp 8.000.
***

MENGIKUTI perjalanan kurs rupiah dan indeks saham selama tahun 1998 ibarat naik turun gunung dengan lembah dan ngarai yang terjal. "Batas rupiah adalah langit," ujar pengamat ekonomi Hartojo Wignjowijoto ketika kurs rupiah terus melemah mendekati Rp 17.000 bulan Juni lalu.




Pasar memang tidak bisa kompromi dengan perkembangan politik. Kondisi negatif ini semakin diperparah dengan perkembangan global seperti jatuhnya kurs yen.

Kurs rupiah setahun yang lalu masih bergerak antara Rp 4.000 - Rp 5.000 per dollar AS. Tidak terlalu "buruk" apabila dikaitkan dengan keadaan saat ini yang bergerak antara Rp 7.000 - Rp 8.000. Akan tetapi kondisi ekonomi dalam negeri ternyata tidak bisa lagi diharapkan untuk mendukung rupiah agar tetap stabil sejak Bank Indonesia (BI) melepaskan rentang intervensi 14 Agustus 1997 dan menutup 16 bank swasta bulan November.

Manuver-manuver politik semakin memperburuk kepercayaan pasar atas perekonomian Indonesia. Kehadiran calon wakil presiden BJ Habibie pada waktu itu, membuat pasar berkeyakinan bahwa Indonesia masih akan tetap dengan ekonomi biaya tinggi. Sikap pemerintah yang juga tarik ulur dalam mencapai kesepakatan program bantuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) semakin mempersulit keadaan.

Hal serupa juga terlihat pada harga-harga saham di BEJ. Setelah sempat melambung melampaui 700 poin pada bulan Juni 1997, indeks saham terus terjun bebas hampir mendekati 300 poin pada bulan Desember dan Januari 1998. Beruntung, penandatanganan letter of intent pemerintah dengan IMF tanggal 15 Januari membuat pasar valas dan saham bereaksi positif pada membaiknya perekonomian.

Kurs rupiah segera kembali menguat hingga di bawah Rp 10.000. Bahkan sempat berada di bawah Rp 8.000 per dollar AS pada bulan Februari. Intervensi BI di pasar valas ikut membantu. Revisi atas RAPBN 1998/ 1999, suatu tindakan revisi pertama yang dilakukan pemerintahan selama ini, juga menunjukkan sikap serius pemerintahan menghadapi krisis.

Di bursa saham, harga-harga saham juga kembali melonjak. Indeks terus naik melampaui 500 poin pada Februari 1998. Menurut pengamat pasar modal Jasso Winarto saat itu, para investor asing mulai mengincar saham-saham unggulan Indonesia yang ketika itu sudah sangat murah. Kesepakatan dengan IMF juga memberikan sentimen positif krisis ekonomi Indonesia akan segera membaik.
***

SEBAGAIMANA dikatakan banyak pengamat, krisis keuangan Indonesia ternyata sudah melebar menjadi krisis ekonomi. Bukan hanya itu, krisis juga mulai masuk ke politik yang selama ini praktis menjadi "kawasan tabu". Akibatnya, kepercayaan akan perekonomian Indonesia secara perlahan namun pasti, mulai pupus.

Letter of credit (L/C) dari Indonesia tidak lagi diterima semua pihak di luar negeri. Lebih kalut lagi, pihak peminjam di luar negeri mendesak para penerima pinjaman di dalam negeri agar segera membayar utangnya. Waktu itu, diperkirakan sekitar 9,8 milyar dollar AS utang jangka pendek pihak swasta Indonesia yang jatuh tempo. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah semakin bertubi-tubi.

Pasar valas maupun bursa saham seperti telah patah arang terhadap pemerintah RI. Seperti telah diungkapkan di atas, sejak itu kurs rupiah terus anjlok hingga mendekati Rp 17.000 (di Singapura sudah mencapai Rp 17.000). Indeks harga saham juga mulai menunjukkan tendensi merosot menembus angka 400 poin dengan beberapa kali naik sedikit sekadar koreksi kecil.

Sejak Juni dan Juli 1998, rupiah yang mencapai kurs paling rendah, secara perlahan mulai membaik. Tekanan terhadap rupiah mulai melemah, setelah sejumlah perundingan bagi penyelesaian utang luar negeri pihak swasta dicapai kesepakatan di Frankfurt, Jerman. IMF juga mulai mengucurkan dana bantuannya. Sejumlah negara sahabat juga mulai memperlihatkan sikap mendukung program ekonomi Indonesia.

Sayangnya, langkah pemulihan ini belum terlihat di bursa saham. Harga-harga saham terus berjatuhan. Tidak jarang, harga saham di BEJ sudah senilai harga permen. Harga rokok ataupun air mineral jauh di atas harga per lembar saham. Indeks saham pun terus turun hingga bulan September mencapai titik terendah 254 poin.

Pertanyaannya, apakah kurs rupiah dan indeks saham ini masih akan stabil pada tingkat ini saat memasuki tahun 1999? Penghujung tahun 1998, rupiah dan bursa agak pulih. Akan tetapi sebagaimana dikemukakan, persoalan yang dihadapi seseorang atau sebuah negara, harus mulai diselesaikan dari diri sendiri.

Itu berarti, pemerintah sejak sekarang harus bisa menyelesaikan semua persoalan ekonomi dan politik yang di dalam negeri. Transparan, tegas, jelas, dan cepat diperlukan. Jangan sampai malah menimbulkan kebingungan dan ketidakjelasan.*

Sumber


Kini tigabelas tahun kemudian, kita melihat proses penularan krisis berulang. Belum juga dunia sembuh oleh menularnya krisis di Amerika dua tahun lalu, krisis sejenis sekarang siap mewabah di Eropa. Yunani yang menjadi pemicu pertamanya, per kemarin hutang pemerintahnya sudah jatuh ke nilai terendah pada tingkat Junk (sampah !). Krisis Yunani sudah menulari Portugal, Spanyol dan bisa jadi akan segera pula menular ke negara-negara lain.


Pada setiap krisis tersebut; uang kertas selalu hancur di negara-negara yang terkena krisis. Setiap kali pula uang kertas hancur, pelarian utama yang paling mudah bagi masyarakat yang ingin menyelamatkan assetnya adalah ke emas. Tidak heran bila harga emas justru melonjak pada setiap krisis terjadi; pertama karena daya beli uang kertas yang dipakainya menurun, kedua karena dorongan naiknya permintaan.

 
harga emas

Sebelum krisis melanda negeri ini 1997/1998; harga emas di Indonesia pada awal 1997 hanya di kisaran Rp 23,400 / gram; di puncak krisis 1998 emas berada pada kisaran harga Rp 147,000/ gram. Meskipun akhirnya sempat membaik ke kisaran angka Rp 65,000-an akhir 1999/awal 2000; perlahan namun pasti harga emas menjulang sampai Rp 340,000/ gram kini. Harga emas saat ini sudah lebih dari 5 kalinya bila dibandingkan harga emas paska krisis, dan  14.5 kalinya dibandingkan harga emas sebelum krisis !.

Kini Kondsinyapun hampir sama : stabilitas politik..Pemilu 2014..kejelasan dan dukungan rakyat akan sangat menentukan.. krisis kepercayaan rakyat yang sudah sangat tipis dan rapuh pada pemerintahan yang notabene kotor...terciptanya pemerintahan baru yang bersih akan sangat sangat membantu perkembangan kedepannya bagi perekonomian Indo...


Mungkinkah Dolar Tembus Rp 13.000 di Tahun 2014

Published on: Jumat, 14 Februari 2014 in ,
Dolar AS terus menguat terhadap rupiah awal 2014 ini. Akankah dolar menembus level Rp 13.000 di tahun 2014 nanti?

"Sepertinya level Rp 13.000/US$ akan terlihat di awal tahun depan. Apalagi jika benar AS akan menghentikan stimulus. Saat ini stimulus masih berjalan meski berkurang menjadi U$ 75 miliar per bulan,".

"BI masih adem ayem dan menggunakan cadangan devisa kita untuk melakukan intervensi rupiah. Kemudian menaikkan tingkat suku bunga untuk mengerem pelepasan rupiah.

Kemudian pada November-Desember 2013 rupiah terus melemah membentuk equilibrium baru dari Rp 10.000/US$ menjadi Rp 11.000/US$. Dan saat ini di Rp 12.200/US$.

"Inflasi yang tinggi hingga 8,3% membuat BI dan pemerintah lebih waspada dalam mengeluarkan kebijakan. Defisit neraca perdagangan beberapa bulan terakhir membuat pertumbuhan ekonomi kita hanya dikisaran 5%. Rupiah terlihat tertekan terhadap dolar. Permintaan dolar di akhir tahun meningkat membuat rupiah semakin terpuruk,"

Lucu saja..kalau masih diem tanpa aksi apa-apa....atau kebingungan kali ya..duitnya mangap seret dipake korupsi..tetep yang jadi korban dan menderita ya rakyat lagi..gak tahu mereka punya nurani atau gak ketika rakyat kebigungan dengan harga-harga kebutuhan yang makin tinggi..gas naek..pangan naek..dll awam hanya bisa bilang.."kenapa.." sambil elus dada...

Ada gak ya..rasa sedih..atau bersalah nyomotin duit rakyat..??? malu mah iya setelah pake jas KPK..:D

Sekarang gelisah dulu kemane aje loe Tong.... ? :D

just a piece of cake dari trader abal abal macam ane..:)



Hati-Hati Dengan Modus Marketing Broker Lokal

Published on: Rabu, 05 Februari 2014 in , ,
Waktu th 2013 an pas Ramadhan, habis buka puasa, suntuk banget iseng ah maen ke temen, setibanya di sana ada seorang yang sedang nunjukin demo acc, sementara yang lainnya pada nonton, saya sendiri diem saja liatin si arsitek nerangin bla bla bla..indicator di pasang di 30M, indinya BB tambah ma settingan periodic tertentu, kemudian stoch, dan potongan RSI.

Kebetulan temen tersebut buka usaha jual beli komputer, serta reparasinya jadi sarana di dia ada, saya diem saja liatin..( walau gatel sih he he he ) dia pun demo di EUR/USD bgt harga nyentuk tuh BB sell lah dia dengan TP 5 pips an SL 40 pips an .

Pembicaraan beliaupun berlanjut, menerangkan ini dan itu,..ehh ujung-ujungnya dia ternyata adalah marketingnya "MILLE" sembari Demo tersebut diapun nawarin untuk berinvestasi pada pak A " kalau bapak mau belajar sok sekalian invest di saya minimal 30 jutaan" busettt dah.."investor saya rata rata 50jt an yang investasi"

Gak kuat nahan akhirnya mulai tak pancing pancing hi hi hi hi.."boleh liat statementnya pak..???" barangkali ada portfolionya yang di upload ke Myfxbook atau MT4i.." tanya saya. atau punya gak gan portfolio 3 bulanan atau lebih saya ingin lihat.."

"wah gak ada"..jawab dia..saya hanya tersenyum saja..he he he, EU itupun loncat-loncat BB settingannya tembus SL pun kena. wualah.."Nah ini karena berita makanya begini"..asli senyum saya..campur bt bin eneuk.. liatnya.

Katanya sih dia sudah 2 tahun lebih di bidang FX sebelumnya di index...Mau lanjut bahas juga males..kebetulan saya upload archieve trade tadi sore pas sell GU dan GJ...beserta gbnya "saya alhamdulilah kang..tadi sore sell GBP/USD dan GJ profit..dan bukan 5 pips :D"

"trade di mana kang..??" tanya dia..di broker apa..Depo berapa..?? "nganu FX depo kecil kok senganu" he he he..bingung dia.."beda ya" kata dia..he he he emang broker hanya itu saja gan..setelah liat archieve trade saya dia pun pergi gak nyamperin lagi..ha ha ha..

Kemudian selang beberapa bulan kemudian saya ketemu temen, yang kebetulan dia dulu kerja di tempat tersebut yang juga pernah trading..(temen tersebutpun kenal dengan si Marketing Mille tsb), akhirnya kamipun deket, dan sering diskusi, temen cerita, suatu hari dia ketemu si Marketing Broker Local tsb, kemudian nawarin ke dia.. "Bro follow up customer minimal 30-40jt an ntar ente ane kasih komisi 5jt.."..gitu kata ke sy gan..kata temen saya tsb. "trus..?" tanya saya...."saya balikin saja gan..ente yng follow up ane kasih double 10jt ane yg tradingin..mabur dia gak mangap gan" kata temen sy tersebut.

Blom lagi pengalaman temen yg lain yg pernah terjerat, di kasih indi alligator doang.."kata si marketing tsb asal mangap kayak buaya laper maka akan makan,..buy sell di situ..buset dah makan komisi iya..hahaha 100jt an lebih angus...( To sobat di Lmjng..hi hi hi sorry brow just memories ya..)..

Buat masyarakat awam juga jika dateng mahluk-mahluk begini.."tanyakan portfolio trade mereka minimal diatas 1 tahun"..jika mereka nawar-nawarin atau ngajak - ngajakl investasi - investasian,..Logika..jika mereka bisa atau berhasil dari trade ngapaiin mesti nyari nyari investor :D..kan sdh cukup dr tradenya juga, jangan tergiur mulut manisnya.

Intinya ( "ternyata oh ternyata..dalam hati..".$#@!@!@!@@%%%^..!!!!" ) beneran kasihan buat mereka yang tergiur omongan manis marketing-marketing broker lokal ini, dengan pengetahuan yang minim.untuk .kejar komisi..dsb...cari makan sih cari makan tapi jangan begitu ente..sadar ente-ente..!!

Ane nulis di belakang jika ente beneran jago ngetrade..ngapaiin jadi marketing broker local, nyari nyari mangsa untuk komisi ente baca ini ..seupil komisi segitu mah..he he he..coba berani gak ente demo depan mereka lol.

The weak rupiah has caused Indonesia’s inflation rate to roughly double since the start of 2013

Published on: Kamis, 16 Januari 2014 in ,
The archipelago nation of Indonesia is part of the emerging markets bubble. The emerging markets bubble started inflating in 2009 as China embarked on an aggressive credit-driven construction and infrastructure boom that led to a surge in demand for raw materials, many of which are exported by emerging market nations. The growing commodities export boom bolstered the fortunes of EM nations, which piqued the interest of investors who were looking to diversify away from hard-hit Western economies.

Ultra-low interest rates in ailing developed economies combined with the Federal Reserve’s multi-trillion dollar QE programs led to a $4 trillion tsunami of “hot money” flowing into emerging market assets in the four years after the Great Recession ended.

A global carry trade developed in which investors borrowed cheaply from the U.S. and Japan, and plowed the proceeds into higher-yielding EM assets, especially bonds, while earning the difference or the “spread.” The surge of liquidity into emerging market assets created a bond bubble, which helped to push borrowing costs to abnormally low levels for such fast-growing economies, which in turn enabled a government-driven infrastructure spending boom, explosive credit growth, and property bubbles across the emerging world.
Massive capital inflows into Indonesia after the 2008 Credit Crunch contributed to a nearly 50 percent rise in the rupiah currency’s exchange rate against the U.S. dollar, and pushed the country’s 10-year government bond yields down to record lows of 5 percent from their 10 to 15 percent pre-Crisis range. In just two years, foreign holdings of Indonesian local currency government bonds rose from 14 percent to 34 percent, while the country’s external debt nearly doubled:
Indonesia External Debt
Foreign direct investment (net inflows, current dollars) more than tripled:
Indonesian FDI
During this time, Indonesian equities quintupled:
Indonesian Stocks
The surging rupiah caused Bank Indonesia, the country’s central bank, to cut their benchmark interest rate from 12.75 percent to just 5.75 percent to stem export-harming currency appreciation:
Indonesia's Benchmark Interest Rate
Indonesia’s Growth Is Fueled By A Credit Bubble

Record low interest rates have fueled an epic credit and consumption boom in Indonesia, which is no small matter given the fact that domestic consumer spending accounts for nearly 60 percent of the country’s overall $878 billion economy. For the past half-decade, Indonesia’s annual GDP growth rate has averaged about 6 percent – the fastest in Southeast Asia – thanks largely to their consumer spending boom.
According to Moody’s, Indonesia’s compound credit loan growth rate has been over 22% for the past six years, while non-mortgage consumer credit nearly tripled in the last five years.  During this time, credit card use has greatly proliferated, with the number of credit cards jumping by 60 percent, while the actual value of transactions almost tripled. Fears of a consumer debt crisis forced Bank Indonesia to limit the number of credit cards a single person is allowed to hold, while barring Indonesians who earn less than $330 (USD) a month from being issued credit cards.
The chart of loans to Indonesia’s private sector provides a graphical view of Indonesia’s credit bubble:
Indonesia's Loans to Private Sector

Domestic credit to Indonesia’s private sector as a percentage of GDP shows that leverage has been increasing as well:
Indonesia's Rising Leverage
With such rapid consumer credit growth, it’s unsurprising to see a concomitant rise in consumer spending:
Consumer
Automobile registrations have more than tripled since 2004:
Indonesian Automobile Registrations
International automakers including Nissan, Toyota and General Motors have taken notice of Indonesia’s automobile boom, and committed up to $2 billion to expand their manufacturing operations in the country in the next few years. Cheap financing has also been fueling a surge in motorbike sales, an indicator of domestic consumption, which grew 13.9 percent in August from a year earlier, after growing 21.3 percent in July. Retail sales that have been growing at an annual rate of 10 to 15 percent in recent years have attracted numerous Western consumer brands like L’Oreal, Unilever and Nestle that are seeking to cash in on Indonesia’s spending boom.

Indonesia Also Has A Property Bubble

Cheap credit and property bubbles go hand in hand, and Indonesia’s bubble economy is no exception. Though data for all Indonesian property markets are scarce, property markets in Jakarta and Bali are becoming frothy, especially at the higher end of the market. Jakarta condominium prices rose between 11 and 17 percent on average between the first half of 2012 and 2013, after rising by more than 50 percent since late 2008. Luxury real estate prices in Jakarta soared by 38 percent in 2012, while luxury properties in Bali rose by 20 percent – the strongest price increases of all global luxury housing markets.  A small two-room apartment on the outskirts of Jakarta can cost nearly $80,000 USD (RM253,373), making housing unaffordable for many ordinary Indonesians.

The surge in real estate activity spurred a 70 percent rally in Indonesian property shares in the first five months of 2013 (though they have sold off since then). Even Indonesia’s central bank has become worried about a property and credit bubble, causing them to issue new rules to curb speculation, including mandating a minimum 40 percent down payment for the purchase of a second house or apartment (bigger than 70 m²).
Bank Indonesia has plenty to worry about when it comes to a mortgage bubble: from June 2012 to May 2013, outstanding loans for apartment purchases nearly doubled from IDR 6.56 trillion (USD $659.3 million) to IDR 11.42 trillion (USD $1.15 billion). In July, the Bali branch of Bank Indonesia gave a warning that it was “on alert” for a possible bursting of the island’s property bubble.  Indonesian property boom apologists cite soaring incomes and economic growth as a justification for the rise of property prices, but the problem with their logic is that the country’s economic growth itself is being buoyed by a credit-driven bubble.

Indonesia’s Bubble Is A Derivative Of China’s Bubble
While domestic consumption accounts for nearly two-thirds of Indonesia’s economy, raw materials account for much of the other third. Unfortunately, this part of Indonesia’s economy is also experiencing a bubble due to its reliance upon exports to China. In recent years, China has been building countless empty “ghost cities” and other wildly ambitious infrastructure projects for the sake of boosting economic growth, much of which is funded by a teetering multi-trillion dollar debt bubble. Indonesia provides a good portion of China’s coal needs, which have boosted the country’s exports:
Indonesia's Exports
The popping of China’s bubble will hit Indonesia’s export sector very hard (Australia’s as well), and the recent decline of the country’s exports due to China’s slowdown is a preview of what is ahead. The fading of Indonesia’s export boom has already contributed to the country’s record trade deficit:
Indonesia's Trade Deficit
Indonesia’s growing trade deficit and this past summer’s taper scare caused a panic in the country’s financial markets that pushed the rupiah currency down 13 percent, their stock market down 25 percent, and sent yields on their 10 year government bond to nearly 9 percent from 5 percent in just a few months. Though Indonesian financial markets have recovered slightly on the Fed’s taper delay, this doesn’t mean that the country is out of the woods – relief rallies are very common after violent market routs. Indonesia and other EM financial markets’ extreme sensitivity to U.S. monetary policy only serves to reinforce the assertion that the emerging markets bubble is driven by speculative “hot money.”

From a technical analysis standpoint, the Jakarta Stock Price Index (JCI) broke below its five year old rising trendline, which is hardly a positive sign and may indicate more declines ahead. The relief rally of the past month simply took the index back to its former trendline, which is now a resistance level. After breaking below important trendlines, markets often rally back up to those levels before embarking on their next leg down. Taper fears are likely to flare up again soon, which could be a catalyst for another decline. (However, if the index can break back above the trendline, the bearish signal would be invalidated.)
Indonesian Stock Market Technical Analysis
The weak rupiah has caused Indonesia’s inflation rate to roughly double since the start of 2013, which forced their central bank to raise its benchmark interest rate from 5.75 percent to 7.25 percent. (The chart below is the U.S. dollar to rupiah exchange rate)
Indonesian Rupiah Declines
Indonesia's Inflation Rate
My primary concern is that rising interest rates across the Indonesian yield curve will eventually pop the country’s property and credit bubbles – after all, it was record-low interest rates that caused them in the first place (just like the U.S.’ bubble from 2003-2007). The strong possibility of an Indonesian credit downgrade in the near future is another bearish catalyst to be mindful of.

RPT-UPDATE 1-India, Indonesia's push for dollars helps send Asian FX reserves to record high

Published on: Senin, 13 Januari 2014 in , , ,
Jan 10 (Reuters) - As the U.S. Federal Reserve winds down an era of easy money, Asia has built up record-high currency reserves, as countries especially those most dependent on foreign capital inflows amass dollars in case investors cut and run.

Foreign exchange reserves in 13 Asian countries excluding Japan tracked by Thomson Reuters are expected to have risen 3.2 percent to a record high $6 trillion in the October-December quarter, marking a near 12 percent increase for the whole year.

The estimate includes an expected 3.8 percent rise in China's FX reserves to an all-time high of $3.8 trillion, or a whopping 19.5 percent surge for the year. The country will report numbers in coming days.
The rise in reserves in the last quarter was led by India and Indonesia, according to data this week, providing comfort about two countries dependant on foreign money to help narrow their traditionally hefty current account deficits.

Both took further steps this week to bolster their defences, with Indonesia raising $4 billion via a bond sale, and India expanding a currency swap agreement with Japan to potentially as much as $50 billion from $15 billion after going on a massive drive late last year to raise money from abroad.

Yet analysts say both may need to do more to avoid the type of painful measures, including interest rate hikes, they undertook last year when foreign investors raced to the exits amid fears the Fed was about to start winding down its money-printing stimulus programme.

That is especially true for Indonesia, given its current-account deficit hit a record 4.4 percent of gross domestic product in the second quarter of 2013.

"Recent global bond issuance should help to shore up market confidence, but Indonesia still needs more funds either from sovereign or domestic bonds to cover its current account deficit," said Rangga Cipta, an economist for Samuel Sekuritas in Jakarta.

"And as risks from global trends and inflation continue to be seen ahead, BI (Bank Indonesia) still needs to increase the benchmark rate in the first half."

Although Indonesia's reserves rose by 3.9 percent in the October-December quarter to $99.4 billion, the biggest rise since the first three months of 2011, it still saw reserves fall 12 percent for 2013, after hitting a more than 2-1/2 year low in July.

Indonesia's reserves cover only around five months of imports and around 1.6 times short-term debt, among the lowest in the region, according to J.P.Morgan estimates last month.
Jakarta has also sought additional cover through currency swaps with other Southeast Asian countries as well as Japan.

STAYING ON GUARD
India is also seen as vulnerable, although confidence is improving after FX reserves surged 7 percent in the October-December quarter to $295.71 billion, the biggest quarterly increase since January-March 2008.
India on Friday said FX reserves in the week ended on Jan. 3 fell to $293.11 billion.
The big improvement came after lenders took advantage of central bank subsidies to raise $34 billion from deposits and capital abroad. Worries about its current-account deficit and foreign outflows drove the rupee currency down by as much as 20 percent to record lows last year.
Policymakers in India and Indonesia have pledged renewed vigilance after the Fed said in December it would start to reduce monthly bond purchases by $10 billion a month.
Both countries were forced to take strong measures last year after their currencies tumbled, with Bank Indonesia raising interest rates by a total of 175 basis points since June, although it held policy steady on Thursday.

Despite the hikes, foreign investors still ended selling $1.8 billion worth of shares in Indonesia, according to Credit Suisse estimates, and 53.31 trillion rupiah ($4.37 billion) in government bonds, according to the finance ministry.

Meanwhile, the Reserve Bank of India raised short-term rates in June. Although a rebound in the rupee has allowed it to wind down those emergency steps, it had to raise interest rates by 50 bps to deal with surging inflation.

RBI officials say continuing to build their FX reserves will be a priority, especially by buying dollars at advantageous rates.

"There is a change in strategy now. The current strategy is to build reserves whenever there is an opportunity so that whenever required we can protect the currency," said an Indian policymaker who declined to be identified talking about the country's FX strategy.

Malaysia remains another source of concerns for analysts.

Foreign investors have big holdings in its markets, while the central bank has traditionally been reluctant to intervene even as currency reserves fell 3.4 percent to $134.9 billion last year, near their lowest in 1-1/2 years.

These worries contrast with the rest of the region, where reserves in South Korea and Taiwan hit record highs, and where the prospect of currency appreciation against the slumping Japanese yen had been a stronger concern.

Although South Korea has been suspected of intervening in recent months to prevent the won from appreciating too much against the yen, analysts say that could change now that the dollar has strengthened after the start of the Fed taper.

"It's hard to expect the won to keep rising against the dollar given the external uncertainties about the pace of the U.S. tapering and how that affects the U.S. economy," said Son Eun-jung, a currency analysts at Woori Futures in Seoul. ($1 = 12190.0000 Indonesian rupiah) (Writing by Rafael Nam; Additional reporting by Se Young Lee in SEOUL, Faith Hung in TAIPEI, Karen Lema in MANILA, Saikat Chatterjee in HONG KONG and Jongwoo Cheon in SINGAPORE; Editing by Kim Coghill)

Broker lokal kalah, broker asing jangan di blokir !

Published on: Minggu, 29 Desember 2013 in ,
Bappebti dan Depkominfo telah memblokir hampir semua situs broker luar negri yang sudah jelas bahwa broker-broker tersebut merupakan broker legal dan paling bereputasi di dunia. Padahal masyarakat yang menginginkan keamanan dananya benar-benar terjamin sangat membutuhkan broker luar negri tersebut. Terutama bagi trader profesional yang ingin trading dalam jumlah dana yang sangat besar, yang mana hal tersebut tidak mungkin jika di lakukan di broker lokal.

Walaupun broker luar negri tersebut tidak memiliki izin usaha dari bappebti, tetapi broker asing yang banyak beroperasi di indonesia di lakukan menggunakan media internet, yang mana di era globalisasi ini semua orang bebas dan berhak untuk mengaksesnya di mana saja dan kapan saja. Atas dasar ini, pemblokiran yang di lakukan oleh bappebti dan Depkominfo sama sekali tidak beralasan, kecuali karena alasan yang menyesatkan. Apalagi situs yang di blokir ini bukanlah situs perjudian, penipuan atau pornografi, tetapi situs superlegal yang tidak berbeda dengan situs-situs seperti google, yahoo, facebook,ebay, amazon, paypal dan situs legal lainnya yang sudah tentu sangat berguna bagi masyarakat.

Maysarakat lebih memilih untuk trading di broker luar negri yang memiliki multiregulasi karena fasilitas dan kredibelitas yang di sediakan oleh broker luar negri sangat menguntungkan para nasabahnya sehingga lebih mudah untuk menghasilkan profit. Broker luar negri selalu berpihak kepada nasabahnya dan sangat mengutamakan keamanan dana nasabahnya.  Ini sangat berbeda dengan broker lokal yang merupakan broker bandar yang curang sehingga mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan nasabahnya. Broker-broker lokal ini sejatinya adalah para mafia yang selalu siap dengan segala kemungkinan untuk menghadapi setiap tuntutan para nasabah yang sudah menjadi korbannya.

Sudah banyak kerugian dan penderitaan yang di alami nasabah akibat broker lokal dan gugatan mereka tidak pernah di tanggapi oleh Bappebti. Bappebti sebagai regulator broker lokal yang di harapkan dapat melindungi masyarakat, selama ini hanya menutup mata setiap kali ada nasabah yang di rugikan. Ironisnya lagi ternyata Bappebti adalah bandar besar yang ikut menikmati uang hasil kecurangan/penipuan broker lokal tersebut. Kenyataan ini membuat nasabah yang menjadi korban tidak memiliki tempat untuk mengadu dan hanya pasrah menerima keadaannya.

baca selengkapnya

Buruh kembali Beraksi

Published on: Jumat, 29 November 2013 in
Ribuan buruh dari berbagai element dan serikat pekerja, Selasa (3/9/2013) mendatangi kantor Balai Kota Jakarta untuk menuntut kenaikan upah Rp 3,7 juta.

“Kita menuntut upah Rp 3,7 juta sesuai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) buruh di Jakarta,” kata juru bicara pendemo, Syamsuri dalam orasinya.

Dalam aksinya mereka meminta agar Pemprov DKI memenuhi tuntutannya itu dan mengancam bila tak dipenuhi akan datang lagi melakukan kasi yang sama dengan jumlah massa yang lebih besar.

Pantaun LICOM, sejumlah polisi pengamanan terbuka ( berseragam) dan Pamtup (pengamanan tertutup, berpakain preman) sudah berjaga-jaga di depan Balai Kota Jakarta. Petugas Lantas juga nampak sibuk di sekitar Jl Merdeka Seletan untuk mengalihkan arus lalu lintas yang mulai macet akibat kasi massa ini.

Seandainya saja para jagoan tersebut mengerti dan memahami analisa di bawah ini , mereka akan mikir lagi untuk melakukan tindakan konyol tersebut, plus sifunya juga akan memberikan masukan masukan yang lebih objective lagi, akan kondisi perekonomian global saat ini yang "hanya nunggu waktu", bukannya jadi kompor.

Tanpa memojokan fihak buruh, namun tuntutannya emang irasionil, mungkin yang kuliah aja akan mikir " ngapaiin kuliah tinggi-tinggi wes jadi buruh aja", tidak pula memandang sebelah mata, karena segala sesuatu berjalan di atas sunatulloh "everything is not for every single person", gak semua orang jadi juragan, gak semua orang jadi dokter, Ir, juga buruh, dsb. Namun apa yang tercipta sekarang semuanya ter set-up di masa lalu, bukan menyesali masa lalu, namun dulu gimana sehingga maaf,..posisi dalam hidup begini, masing masing individu yang tahu.

Untuk standard di Indo 2.4 juta ngirit ngirit sudah cukup saya fikir, masih bisa nabung juga, ya kembali ke pola hidup jawara jawara tersebut.  Hidup layak seperti apa yang mereka pengen. Kalo pengennya hidup kayak orang-orang kaya di Jakarta, main ke mall, hp canggih, makan enak gitu, rokok sehari bungkusan, ya gantilah profesi, jangan jadi buruh pabrik.

"Syukuri yang sudah, terima yang ada Dan yakin pada yang akan datang"

Untuk ente jagoan yang manas manasin tolong ente fikir kedepan, kemungkinan terburuknya, mereka akan jadi korban saja, sementara ente masih bisa ketawa ketiwi,...kasihan..

Kalau mau mogok atau demo ente ente yang jagoan ini jangan ngajak-ngajak atau pake sweeping2an pada mereka yang punya fikiran waras, mau kerja keras, punya semangat hidup, dan bisa bersyukur..

Beneran gak kebayang kalau para investor mindahin investasi mereka, ke luar Indo...ditambah pasca Pemilu....


Lah Kok..??

Published on: Kamis, 14 November 2013 in
Buruh Mogok Investorpun Minggat


Menanggapi kabar bahwa tujuh perusahaan asal Korea Selatan yang beroperasi di Kawasan Berikat Nusantara akan merelokasi usahanya ke Kamboja, Iqbal pun kembali menyatakan sikap menyayangkan.

Masternya  KSPI Said Iqbal usai konferensi pers menolak UMP DKI Jakarta 2014 di kantor Kontras, Jakarta, Senin (4/11/2013)

Meski demikian, ia ngotot agar perusahaan tersebut mampu membayar lebih tinggi dari upah minimum yang ditetapkan oleh Jokowi.

"Saya juga enggak setuju perusahaan itu hengkang karena kita akan kehilangan kesempatan kerja, pengangguran meningkat," kata Iqbal.

Kok sayang Boss kan Jagoan..???..aneh....wkwkwkw

source: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/11/10/1653080/Said.Iqbal.Enak.Aja.Jokowi.Mau.jadi.Presiden


http://www.tribunnews.com/metropolitan/2013/11/02/jika-buruh-mogok-lagi-71-perusahaan-di-cakung-ancam-cabut

Buruh Mogok Pindah aja Investasi

Published on: Minggu, 03 November 2013 in
 Agustusan kemaren, agak nyeleneh emang saking keselnya, sedikit bahas tentang buruh yang diperkirakan akan mogok, serta demo untuk nuntut kenaikan upah, akhirnya heboh dan terjadi juga pada bulan - bulan ini....ceileh dapet bocoran dari mana gan..???  he he he,  Tanpa memojokan para Buruh yang maaf menurit penilaian saya pribadi "sangat - sangat berlebihan", hanya sebelah mata yang mereka lihat "Ego Pribadi", yang tanpa pertimbangan maaf kembali "akal sehat"..mereka tidak mempertimbangkan kepentingan kebijakan pengusaha, yang tentu dalam hal ini merekapun profit oriented ketika menanamkan satu investasi.

Kalau begitu bagaimana..??? Yo wes Pindah aja mas Bro....pindahin aja investasinya, tarik, nanggung pindah saja ke negara yang emang aman untuk berinvestasi dan gak neko neko..biar mereka nyaho dan ngerasa hasil dari mengedepankan ego dan kepentingan pribadi yang tanpa akal sehat...he he he.

Gak kebayang jika para investor pindah ke myanmar, vietnam, bangladesh atau yang lainnya, plus tahun depan pemilu lagi...yihaaaaa.....ck ck ck




Aksi mogok buruh yang berlangsung beberapa hari terakhir dengan tuntutan kenaikan upah menjadi Rp 3,7 juta per bulan membuat pengusaha khawatir.

Sebab itu, sebanyak 37 perusahaan telah mengirimkan surat permintaan kepada asosiasi pengusaha agar upah minimum provinsi (UMP) 2014 tidak naik.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang mengatakan, ke-37 perusahaan tersebut berada di Kawasan Berikat Nusantara (KBN).
"Sebagian besar merupakan penanaman modal asing," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Kamis (31/10/2013).

Sarman mengungkapkan dalam surat tersebut pengusaha mengaku tidak bisa lagi menerima kenaikan UMP karena pada tahun lalu upah buruh sudah meningkat hingga 44%.
Pengusaha-pengusaha tersebut pun mengaku berat jika harus menanggung kenaikan UMP di tahun depan. Kalaupun hal itu terjadi, mereka berencana melakukan hal lain seperti memindahkan usahanya ke lokasi yang memiliki upah lebih rendah.

"Kalau naik ya mereka itu bisa benar-benar relokasi dari Jakarta keluar bisa ke daerah lain atau bahkan ke negara lain," tutur dia.

Perusahaan yang mengajukan permintaan perihal UMP tersebut sebagian besar bergerak pada industri padat karya, seperti garmen, tekstil dan lainnya.
Atas permintaan ini, Sarman khawatir jumlah investor di Indonesia akan turun dan mengancam iklim investasi. Dia pun meminta buruh mempertimbangkan permintaan mereka dan lebih memfokuskan memberikan produktivitas yang lebih baik. "Dengan begitu gaji pasti mengikuti naik," tegas dia.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi, mengungkapkan bahwa demonstrasi besar-besaran para buruh di Bekasi pekan lalu membuat sejumlah perusahaan asing berencana merelokasi pabrik mereka dari wilayah Jabodetabek.

Untuk itu, Sofjan mengusulkan perusahaan-perusahaan asal Jepang dan Korea Selatan merelokasi pabrik-pabriknya ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Untuk perusahaan Jepang dan Korea, saya bilang lebih baik mundur sajalah ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur," kata dia, di Jakarta, Selasa, 31 Januari 2012.

Menurut Sofjan, dampak demo buruh minggu lalu cukup besar, terutama terhadap investasi yang berhubungan dengan labor intensive industry (industri yang membutuhkan banyak pekerja). Selain itu, dampak berikutnya adalah terhadap usaha kecil menengah (UKM).

"Yang ini kita perjuangkan sekarang ini adalah bukan untuk perusahaan yang besar-besar, di mana para perusahaan tersebut masih bisa membayar upah minimum buruh. Akan tetapi, usaha-usaha kecil menengah kita. Itulah yang menjadi masalah utama kita," ungkapnya.

Untuk itu, Sofjan meminta kepada gubernur, khususnya Gubernur Jawa Barat, supaya hal ini (upah minimum buruh) dikecualikan, yaitu UKM dan label investasi industri tersebut. Ini terjadi, karena yang menjadi masalah di negara ini adalah masalah kemiskinan dan pengangguran.

"Bagaimana bisa menekan pengangguran adalah dengan adanya UKM. Begitu juga dengan labor intensive industry, bukan yang capital intensive yang kita utamakan seperti perusahaan-perusahaan besar lainnya," kata dia.

Tidak Mengerti

Sofjan menegaskan, pemerintah tidak mengerti bagaimana upah minimum tersebut,  karena upah itu digeneralisir, di mana jenis perusahaan yang besar dan kecil juga harus membayar.

"Yang kita perjuangkan saat ini adalah yang minta tolong dengan pihak Apindo adalah orang-orang yang tidak mempunyai organisasi dan para pengusaha kecil menengah yang tidak ada insentif," ujarnya.

I love You But I hate You

Published on: Minggu, 25 Agustus 2013 in
Begini loh boss, ente yang duduk manis di sana bukan orang - orang bego..!!! ente dan anak bini ente makan dari hasil keringat kami..!! harusnya ente juga sudah tahu ini akan terjadi..!!! apa mata ente buta..??? atau pura - pura...??? atau ente emang goblog !!!!

Kalau seandainya rupiah di tahun 2014-2015 beneran, amblas, kan ente mestinya sudah baca itu semua bisa ente prediksikan dan asumsikan itu semua.

Hukum kan berjalan US dan sekutunya kagak bakalan mau ambruk sendirian, dan emang harus US $, bakalan menguat dan terkoreksi..apa sih IDR..??? Punya berapa cadangan devisa ente untuk nahan ini semua..??? system perekonomian carut marut, hasil bumi di bawa mabur orang, perbankan gak sehat,..century..aja bisa di mainkan ama ente - ente seperti itu..!! belom lagi monyet - monyet koruptor yang masih ketawa ketiwi gak punya malu, muak gue liat ente - ente..!!! Pantas ibu Sri Mulyani mabur ke Amrik, gak bakalan tahan liat ente - ente..!!!

Sekarang ente baru panik..!!! sok - sok-an kebijakan ente - ente kluarin !!! ke depan ente mau naekan lagi BBM..????? karena ente gak tahan nanggung subsidi..?? ente bebankan lagi pada kami rakyat kecil..???? setelah sebagian banyak ente kluarin buat proyek proyek dan kebijakan - kebijakan bodoh ente..???...BLT, dsb.

Buruh demo lagi minta kenaekan kembali upah..ini juga sama gobolognya..!!! pake pale loe bukan dengkul loe..!!! jika investor lari karena gak kuat bayar loe..!!! mau kerja di mana loe..??? sadar gak loe jika sebagian sekarang sudah mindahin asset mereka dari Indo..??? pale loe pake mereka bukan orang - orang goblog yang gak mau ambil resiko terlalu tinggi untuk nanam modal di sini, apalagi ditambah kelakuan loe yang ngehe..!!! bego beneran..!!!! mau dikasih makan batu anak bini loe..???

Pola hidup boros, bangga pake barang made in nganu, makan di restaurant nganu....duit pas pasan ngebela belaiin,..punya duit lebih pun hasil dari yang gak jelas dan gak beres !!! parah..!!

Pemerintahan baru terbentuk, kebijakan barupun muncul, yang lama lenggang kangkung cuci tangan hebatttttt ...gak malukah ente dan ada perasaan bersalah..??? punyakah ente sedikit nurani bahwa ini semua yang terjadi ada adalah imbas dari ente - ente..!!!

I love Indonesia tapi gue muak ama ente - ente !!!


Perlahan Mulai Heboh Beritanya Rupiah Anjlok !!!

Published on: Kamis, 22 Agustus 2013 in
Kurs mata uang rupiah dari hari ke hari tampak kian terpuruk, mendekati tingkat Rp11.000 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (21/8/2013) sore. Rupiah diperdagangkan pada Rp10.945 di pasar spot antarbank, atau jatuh 215 poin dari sehari sebelumnya.
Di bursa perdagangan Asia, rupiah melemah menjadi Rp10.680 terhadap dolar AS, titik terendah sejak pertengahan 2009, dari Rp10.495 pada Selasa (20/8/2013). Di pasar spot antarbank Jakarta sejauh bulan ini kurs rupiah telah terkoreksi sebesar 6,4% dari Rp10.290 pada awal Agustus.
Fenomena pelemahan ini juga melanda mata uang negara-negara berkembang lainnya. Beberapa mata uang telah turun tajam, rupee India jatuh ke rekor terendah baru untuk ketiga hari berturut-turut mencapai 64,60 terhadap dolar AS pada Rabu.

Rupee India bahkan merupakan mata uang Asia berkinerja terburuk pada tahun ini. Dalam tiga bulan terakhir saja rupee telah kehilangan sekitar 19,5% dari nilainya terhadap dolar AS.
Demikian pula dengan real Brazil yang telah jatuh ke tingkat terendah dalam empat tahun, mencapai 2,4282 terhadap dolar AS, tingkat yang tidak terlihat sejak Maret 2009. Hal yang sama menimpa mata uang lira Turki, yang turun sekitar 10 persen dari puncaknya pada Februari.

Mata uang negara-negara berkembang sebagian besar telah terpukul baru-baru ini, karena banyak investor menarik uang mereka dalam mengantisipasi langkah Federal Reserve AS akan mulai mengurangi stimulus besarnya, dengan India paling parah karena pertumbuhan yang lambat.
Negara-negara berkembang seperti Indonesia memang telah banyak menerima aliran dana asing melalui instrumen investasi obligasi, reksadana, dan saham. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika dana-dana tersebut tiba-tiba ditarik para pemiliknya.

Sebuah asosiasi bank-bank terkemuka dunia, Institute of International Finance (IIF), memperkirakan arus masuk bersih modal swasta ke negara-negara berkembang kemungkinan akan turun US$36 miliar menjadi US$1,145 triliun pada tahun ini, dan kemudian turun 33 miliar dolar AS menjadi US$1,112 triliun pada 2014.
Fenomena inilah yang sekarang sedang dihadapi Indonesia dan beberapa negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Sejak krisis moneter melanda Amerika Serikat pada 2008, negara-negara emerging markets, telah banyak menikmati aliran dana asing. Dana-dana itu masuk ke Asia, karena melihat pertumbuhan ekonomi di kawasan ini begitu fantastis.
Indonesia salah satu negara yang menjadi incaran para investor, karena instrumen investasinya memberikan imbal hasil lebih menarik dibanding negara lainnya. Sepanjang semester I/2013 dana asing mengalir cukup deras ke sektor keuangan nasional. Bank Indonesia (BI) mencatat arus modal masuk (capital inflow) dalam bentuk portofolio mencapai Rp33,8 triliun pada Januari-April 2013. Angka ini diyakini semakin besar untuk kumulatif selama semester pertama.

Namun belakangan mulai muncul gejala terjadinya pelarian modal (capital flight) menyusul rencana Federal Reserve AS untuk mengurangi stimulus moneternya. Sebelumnya, program pembelian aset oleh the Fed, yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (QE) sebesar US$85 miliar/bulan telah mendorong para investor AS memilih berinvestasi di luar negeri untuk mencari keuntungan yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan pasar di seluruh dunia.

Faktor Internal
Pelemahan kurs rupiah belakangan ini juga didorong beberapa faktor internal. Pasar tampak merespon negatif perkembangan kebijakan fiskal dan moneter, seperti postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2014 yang terlalu optimistis dan langkah BI mempertahankan suku bunga acuan 6,5%.
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, tekanan di pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah, masih berlanjut karena faktor global, yakni isu pengurangan stimulus dari bank sentral Amerika Serikat serta faktor domestik, khususnya defisit transaksi berjalan.
Defisit transaksi berjalan merupakan fenomena relatif baru untuk Indonesia yang selama bertahun-tahun terus membukukan surplus. Belakangan transaksi berjalan mulai defisit dan merembet ke neraca pembayaran sehingga menimbulkan sentimen negatif di pasar.
Transaksi berjalan triwulan II-2013 mengalami defisit senilai US$9,8 miliar, naik dari defisit transaksi berjalan triwulan I-2013 senilai US$5,8 miliar karena tekanan dialami hampir di semua pos. Ini merupakan defisit transaksi berjalan triwulanan ketujuh berturut-turut sejak triwulan terakhir 2011.
Defisit transaksi berjalan terjadi akibat nilai ekspor barang dan jasa lebih kecil dari nilai impor barang dan jasa. Namun, dikaitkan dengan transaksi modal dan finansial, yakni investasi langsung dan investasi portofolio, membentuk neraca pembayaran.
Data triwulan II-2013 menunjukkan, defisit neraca pembayaran turun dari US$6,6 miliar menjadi US$2,47 miliar. Neraca pembayaran belum surplus lagi seperti pada 2011 dan 2012. Kondisi defisit ini membuat cadangan devisa berkurang. Cadangan devisa saat ini US$92,671 miliar. Cadangan devisa pernah mencapai US$124,6 miliar pada Agustus 2011.
Dengan cadangan devisa yang terus menurun, sulit bagi bank sentral untuk melakukan intervensi di pasar. Meski BI menyatakan bahwa ia terus berada di pasar, melalui intervensi di pasar valas untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, diperlukan bauran kebijakan yang cukup untuk menahan penurunan rupiah lebih lanjut, termasuk peningkatan suku bunga acuan BI rate.
Beberapa bank sentral telah bertindak untuk menahan kemerosotan mata uang mereka. Bank sentral Brazil, Turki dan India telah melakukan intervensi di pasar mata uang dan menaikkan suku bunga utamanya. India bahkan secara tak terduga melakukan kontrol pada arus keluar dana-dana asing.

Rupiah Terpuruk Rupiah Tembus Rp 10.800 per Dollar AS

Published on: Rabu, 21 Agustus 2013 in
Hm.. banyak yang ngeyel dan gak percaya he he he..waktu cerewet di FB dsb hati - hati 2014-2015, bergerak mulai..trus..ugh...ngeri dan merinding,...apalagi liat kondisi chart, ditambah funda pada 2014...mau percaya gimana wong ente bukan econom wkwkwkwkw.


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -

Minimnya sentimen positif untuk rupiah membuat mata uang Garuda terus mengalami tekanan.
Pada pukul 08.13 WIB pagi, Rabu (21/8), nilai tukar rupiah di pasar spot sudah berada di posisi Rp 10.814 per dolar Amerika Serikat (USD).

Nilai tukar rupiah pagi ini sudah melemah 0,84 persen jika dibandingkan kemarin di posisi Rp 10.753 per dolar AS. Dalam tiga bulan belakangan ini, rupiah sudah melemah sebesar 9,7 persen.

Pelemahan rupiah terjadi karena munculnya spekulasi atas keputusan pembatasan stimulus moneter di Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. Selain itu, pelemahan rupiah terjadinya akibat defisit neraca perdagangan Indonesia.

Sementara itu, nilai kurs tengah yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) kemarin (20/8) sudah berada di posisi Rp 10.504 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi karena munculnya spekulasi atas keputusan pembatasan stimulus moneter di Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. Selain itu, pelemahan rupiah terjadinya akibat defisit neraca perdagangan Indonesia.(Asnil Bambani Amri/Kontan)

Jika Krisis Terjadi Dan dampaknya Pada Pekerja di Indonesia

Published on: in
Perekonomian Indonesia, yang selama empat tahun terakhir tumbuh signifikan saat negara-negara lainnya resesi, kini terasa menurun.
Defisit neraca perdagangan semakin lebar. Kinerja ekspor tahun ini tidak terlalu menggembirakan sejak harga komoditas primer, seperti kelapa sawit dan batubara, anjlok. Pasar domestik sebagai andalan untuk menggerakkan ekonomi dengan strategi terus berbelanja rupanya juga dijejali produk impor yang rentan disusupi barang selundupan.

Jika konsumen lebih banyak membeli barang impor, bagaimana nasib barang produksi lokal? Saat produk lokal terjepit barang impor, bagaimana pabrik-pabrik kita bisa terus berproduksi? Roda ekonomi domestik akan semakin lambat berputar saat pabrik mulai mengurangi atau merasionalisasi jumlah pekerja mereka. Apabila kondisi seperti ini berlanjut, kita akan menghadapi krisis sesungguhnya. Jumlah pekerja informal meningkat. Begitu pula ancaman pengangguran.

Dari 121,2 juta angkatan kerja pada Februari 2013, masih ada 7,1 juta (5,92 persen) penganggur terbuka. Meski jumlah pengangguran turun dari 6,32 persen pada Februari 2012, pemerintah tidak boleh terlalu gembira. Krisis membuat para pengusaha menahan diri untuk berinvestasi. Mereka memilih menunggu sambil melihat perkembangan situasi. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, kini tinggal investor yang sudah telanjur menanam modal yang mewujudkan program investasi mereka. Selebihnya memilih menunggu sampai pemilihan umum tahun 2014.

Krisis ekonomi dan keterbatasan investasi membuat pasar kerja semakin kaku. Apabila kondisi seperti ini terus terjadi, rasanya kita semakin sulit menyerap 68,4 juta pekerja informal ke sektor formal. Mereka akan terus bekerja dengan upah rendah, tanpa jam kerja yang jelas, tanpa perlindungan sosial, dan bekerja dalam kondisi yang buruk. Yang lebih parah lagi, mereka akan terus hidup dalam ancaman kemiskinan.

Sayangnya situasi pekerja formal pun tidak kalah rapuh. Data Apindo menyebutkan, sedikitnya 44.000 pekerja sektor industri alas kaki dan garmen terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang semester I-2013. Separuhnya terjadi di sentra industri alas kaki dan garmen di kawasan Tangerang Raya, Banten. Mereka terpaksa menganggur karena pabrik tempat mencari nafkah selama ini tutup total atau relokasi ke daerah lain.
Peristiwa yang sebenarnya tidak kita inginkan ini terjadi di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Tingkat kenaikan upah minimum provinsi (UMP) rata-rata 40 persen di sejumlah provinsi membuat
pengusaha alas kaki dan garmen menjerit.

Satu demi satu pabrik alas kaki dan garmen yang sejak tahun 1980-an diandalkan sebagai penyerap tenaga kerja berpendidikan rendah gulung tikar. Industri padat karya yang memanggul beban menyerap sebagian besar dari 54,6 juta pekerja berpendidikan sekolah dasar kini di ambang keterpurukan. Krisis ekonomi global pun kian mempercepat kematian industri alas kaki dan garmen. Investor yang tak kuat menghadapi
kenaikan UMP terpaksa lempar handuk. Seorang pengusaha memilih membayar Rp 40 miliar untuk pesangon pekerja yang mengundurkan diri dengan sukarela dan membeli mesin. Dia terpaksa melakukan ini agar pabriknya tidak kolaps jika UMP tahun 2014 naik drastis lagi. Kini, dia memiliki ratusan mesin yang setiap mesin setara dengan lima pekerja.

Krisis membuat daya beli turun. Dialog seharusnya menjadi pintu masuk untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ekonomi kita. Dunia usaha dan serikat pekerja semestinya bersatu menghadapi krisis. Pengusaha meningkatkan efisiensi dan pekerja menaikkan produktivitas. Pemerintah pun harus mengamankan pasar domestik dan ekspor agar produk nasional bisa terus terjual. Saat krisis berakhir, serikat pekerja dan Apindo bisa berdialog kembali demi kelangsungan usaha, jaminan pekerjaan, dan kesejahteraan buruh.

Indonesia Krisis Lagi, Amerika Siap Bantu

Published on: in
Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Hubungan Politik Amerika Serikat Wendy R Sherman meyakini Indonesia aman dari ancaman krisis ekonomi seperti pada 1998, menyusul pertumbuhan yang sangat bergairah.

"Saya yakin Indonesia tidak akan lagi terjebak dengan krisis ekonomi seperti pada tahun 1998 karena kondisi saat ini jauh lebih baik, dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat bergairah," kata Wendy di Jakarta, Selasa (21/5). 

Menurut Wendy, Indonesia sudah sepenuhnya memetik pelajaran dengan baik dari pengalaman yang terjadi pada krisis ekonomi 1998.

"Indonesia menjelma menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat dan bergairah semenjak itu," kata Wendy.

Ia menambahkan,"Saya melihat Indonesia telah menerapkan banyak kebijakan ekonomi dan keuangan yang tepat untuk mendukung pertumbuhan tersebut."

Hal tersebut terbukti dengan keberhasilan Indonesia tetap mencatat pertumbuhan ekonomi 4,5 persen kala AS mengalami resesi 2009.

Pertumbuhan ekonomi itu juga terus berlanjut dan naik menjadi 6,1 persen pada tahun 2010, 6,5 persen (2011), dan 6,23 persen (2012).

Terlepas dari itu semua, Wendy meyakinkan kalaupun Indonesia terjebak dalam situasi krisis seperti tahun 1998, AS akan selalu bersedia untuk mendukung Indonesia.

"Jangankan AS, seluruh dunia pasti akan tergerak untuk membantu negara ekonomi luas seperti Indonesia, terlebih Indonesia merupakan pasar yang besar," ujar Wendy.

Waspada 2014 - 2015

Published on: Jumat, 26 Juli 2013 in
Ada apa dengan tahun tahun tersebut..??? Sebelumnya saya banyak diskusi dengan kemungkinan naeknya harga BBM dengan teman teman, setelah pemerintah sempat menahan dulu laju kenaekan BBM, namun pada akhirnya ya mesti naek juga karena berbagai pertimbangan, dan kekuatan cadangan devisa Indo itu sendiri untuk menahan laju penguatan BBM.

2014, yang jelas sih berakhirnya era pemerintahan lama, pemilu, terbentuk kabinet baru dsb, ane analisa hanya dari chart saja, pelemahan US$ terhadap beberapa mata uang negara lain, misal Krone, bahkan sing $ sudah ada dalam titik titik tertentu untuk reversal, artinya bukan tidak mungkin jika akan terjadi penguatan US$ terhadap mata uang lainnya.

Lalu apa dampaknya ke Indo..??? apa hubungannya..???  secara Macro Economy ane fikir Indo bukan barometer perekonomian Asia Tenggara, Singapore dan HK jelas jauh lebih diperhitungkan daripada Indo, kemudian jika Sing$ dan HK$ jauh melemah terhadap US$ dampaknya ke IDR pun akan sangat besar. Bukan tidak mungkin USD akan menembus level 10.000 lebih /1US$.

Rentannya system perbankan, buruknya management perekonomian plus korupsi yang merajalela, ditambah situasi politik yang labil bukan tidak mungkin untuk memicu pelemahan IDR, sentimen pasar yang buruk yang menyebabkan investor ragu untuk berinvestasi,  Spekulan besarpun begitu mudah dan leluasa untuk mempermainkan IDR, harapan semoga tidak separah 1997.

Sekarang saja rakyat sudah banyak menjerit, apalagi jika itu terjadi nanti....

Banyak hal di kepala ini yang mau diutarakan untuk 2014-2015, males ngetiknya juga, and let me keep it for my self saja, so let see 2014 - 2015..seorang sahabat berkata "welcome the spirit of hard worker..."


Tahun 2013, Krisis Keuangan Diperkirakan Masuk Indonesia

Published on: Jumat, 15 Maret 2013 in ,
Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada Anggito Abimanyu memprediksi krisis ekonomi global yang melanda Amerika Serikat dan Eropa akan pelan-pelan melanda ke Indonesia pada 2013. “Mungkin pada kuartal ke-empat,” katanya saat dihubungi Tempo Selasa 13 September 2011. Dampak ini tidak langsung masuk lantaran Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang bagus sejak tahun lalu.

Menurut Anggito krisis sulit dihindari oleh Indonesia lantaran krisis sekarang lebih berat ketimbang krisis 2008. Alasannya jika krisis 2008 bisa ditanggulangi dengan stimulus fiskal melalui utang sekarang ini negara-negara memiliki defisit anggaran yang besar ketimbang produk domestik bruto. Selain stimulus fiskal, lanjut Anggito, negara-negara yang tergabung dalam G-20 mampu melakukan penurunan suku bunga. “Sekarang ini, tidak banyak instrumen untuk menanggulangi krisis,” ujarnya. Situasi saat ini, menurut Anggito, belum ditemukan instrumen untuk mencegah krisis.

Anggito mencontohkan krisis di Amerika Serikat yang belum pulih. Mantan Kepala Badan Kebijkan Fiskal Kementerian Keuangan ini menilai Amerika tidak bisa menggunakan utang untuk memulihkan ekonominya. Biasanya, stimulus fiskal untuk penanggulangan krisis atau ekspansi ekonomi Amerika Serikat selalu bermodalkan utang. Namun kali ini defisit anggaran Amerika Serikat sudah melebihi 100 persen dari produk domestik bruto. “Kalau nambah utang Amerika akan terkena down grade (penurunan peringkat utang),” ujarnya.

Adapun ekonomi Indonesia, menurut Anggito, masih bisa bertahan lantaran fundamental yang bagus. “Pengalaman 2008 biasanya kita cukup tahan,” katanya. Kebijakan Bank Indonesia menarik devisa hasil ekspor dan kredit luar negeri agar disimpan di lembaga keuangan dalam negeri, menurut Anggito, merupakan langkah yang tepat. “Tapi biasanya itu dilakukan dalam keadaan damai,” ujarnya pada saat rapat dengar pendapat dengan Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Senin 12 September 2011.

Kebijakan ini, menurut dia, bisa menciptakan rumor negatif bahwa di Indonesia juga terjadi krisis ekonomi. Namun pendapat Anggito disanggah oleh Direktur Econit Henri Saparini. “Kalau tidak sekarang kapan lagi,” ujarnya.

Selain penarikan valuta asing, menurut Anggito, pemerintah harus menggenjot Innitial Public Offering (IPO), stabilisasi surat utang negara, dan membuat kebijakan agar penempatan dana asing di dalam negeri menjadi lebih lama. Kebijakan IPO BUMN oleh pemerintah, menurut Anggito, dirasakan kurang lantaran jumlah IPO BUMN menurun beberapa tahun belakang. Apalagi Menteri BUMN Musatafa Abubakar memutuskan tidak akan ada lagi BUMN yang IPO di semester kedua tahun ini.

Krisis ekonomi global, membuat Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution pesimis target pertumbuhan ekonomi pemerintah 2012 sebesar 6,7 persen bakal tercapai. Menurut Darmin krisis ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa telah menurunkan pertumbuhan ekonomi dunia sehingga menurunkan perdagangan internasional.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan krisis di Amerika Serikat tidak berpengaruh langsung terhadap ekspor Indonesia. Namun jika krisis Amerika Serikat mempengaruhi ekspor Cina, Jepang, dan India, rentetannya akan berdampak kepada Indonesia lantaran ekspor Indonesia ke tiga negara tersebut sangat besar.

 Krisis Uni Eropa Akan Berdampak Besar Pada Indonesia

Uni Eropa memang dikenal dengan rasa kesatuannya yang kuat. Namun mata uang Euro yang mempersatukan mereka, justru membuat situasi sulit untuk negara-negaranya. Krisis utang di zona Eropa ini mempunyai efek domino berkat kesepakatan satu mata uang di wilayah Eropa tersebut. Walaupun Indonesia bukan bagian dari Uni Eropa, tapi seluruh dunia dapat merasakan dampak krisisnya. Ini dikarenakan Benua Eropa didominasi negara maju yang mempunyai peran penting bagi negara-negara lainnya. Efek dari kondisi ekonomi yang buruk tersebut sampai hingga ke Tanah Air. 
efek domino
Indonesia berpotensi terkena krisis lagi! Pernyataan ini didukung oleh fakta yang dijabarkan Aviliani, ekonom dari InDEF (Institute for Development of Economics and Finance). “Kalau di Eropa ada negara yang utangnya jatuh tempo, orang ketakutan mau menaruh uang dimana pun. Jika kecenderungan di sana beritanya buruk, investor asing mengambil uang di pasar modal kita,” jelasnya. Contohnya, saat investor asing yang menarik dana berjumlah cukup besar sewaktu krisis di Yunani tahun lalu, Indonesia berpotensi krisis. “Beruntung BI cepat tanggap, sehingga tidak terjadi likuiditas,” ujar Aviliani. Faktanya, sewaktu krisis lalu orang cenderung ingin memegang uang cash karena merasa lebih aman. Sewaktu Jerman menawarkan akan membantu keadaan ekonomi tersebut, para investor asing kembali menaruh uang mereka. Tetapi, jika kabar dari salah satu negara Eropa, Italia misalnya, tidak bisa bayar utang mereka, kita harus mempersiapkan diri karena Indonesia terancam kena krisis lagi!
Bersiaplah, pasar Cina akan menyerbu Indonesia! Sebagai salah satu pengekspor terbesar, akan sulit bagi negara Cina untuk memasuki wilayah Eropa dikarenakan krisis yang melanda. “Yang dikhawatirkan adalah dengan ditutupnya pasar Eropa karena krisis, maka barang-barang ekspor Cina akan dialihkan secara besar-besaran ke Indonesia,” jelas Ratna Sari Loppies, Ketua komite Tetap Hukum dan Pengamanan Perdagangan. Serbuan barang Cina tersebut membuat panik pasar domestik Indonesia. Karena, diprediksikan akan menurunkan jumlah produksi dan juga penjualan dalam negeri. Hal ini dapat memicu adanya kerugian finansial serta pengurangan tenaga kerja (PHK) yang menghasilkan melejitnya tingkat pengangguran. “Satu-satunya cara untuk mengantisipasi keadaan buruk ini adalah dengan menjaga daya saing dan juga pasar domestik dalam negeri,” tambahnya.
Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter!